Teori Kreativitas


Kreativitas adalah proses konstruksi ide orisinil dan bermanfaat. Istilah kreativitas mengacu pada kemampuan individu yang mengandalkan keunikan dan kemahirannya untuk menghasilkan gagasan baru dan wawasan yang segar yang sangat bernilai bagi individu tersebut.
Kreativitas juga merupakan kemampuan untuk mencipta/berkreasi. Menurut Clark Moustakis (1976), kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, alam dan orang lain. Kreativitas, disamping bermakna baik untuk pengembangan diri maupun untuk pembangunan masyarakat juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, yaitu kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia (Maslow, 1968).
Menurut Torrance (1988), kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Conny R. Semiawan (1984) mengatakan bahwa kreeativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas tersebut adalah kemampuan seseorang dalam menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang baru.
Pengertian kreativitas di atas diperkuat dengan teori-teori yang ada. Teori-teori yang berkaitan dengan kreativitas antara lain:
1) Teori Psikoanalisa
Kreativitas sebagai hasil mengatasi suatu masalah yang biasanya dimulai sejak masa anak-anak. Pribadi kreatif dipandang sebagai seseorang yang pernah mempunyai pengalaman traumatis yang dihadapi dengan memungkinkan gagasan yang disadari dan tidak disadari bercampur dengan pemecahan inovatif dari trauma.
Tokoh-tokoh teori psikoanalisa adalah:
a) Sigmund Freud,
Proses kreatif menurut Freud berasal dari mekanisme pertahanan, yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari kesadaran ide-ide yang tidak menyenangkan atau yang tidak dapat diterima. Biasanya mekanisme pertahanan merintangi produktivitas kreatif. Kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif dan mekanisme sublimasi justru menjadi penyebab utama dari kreativitas.
b) Ernest Kris,
Menekankan bahwa mekanisme pertahanan regresi (beralih ke prilaku sebelumnya yang akan memberi kepuasan, jika prilaku sekarang tidak berhasil atau tidak memberi kepuasan) juga sering muncul dalam tindakan kreatif.
c) Carl Jung,
Ia mengatakan bahwa ketidaksadaran memainkan peranan yang amat penting dalam kreativitas tingkat tinggi. Alam pikiran yang tidak disadari dibentuk oleh masa lalu pribadi. Dengan adanya ketidaksadaran kolektif, maka akan timbul penemuan, teori, seni dan karya-karya baru lainnya.
2) Teori Humanistik,
Teori ini lebih menekankan kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi. Kreativitas dapat berkembang selama hidup dan tidak terbatas pada usia lima tahun pertama.
Tokoh pendukung teori ini adalah Abraham Maslow dan Carl Rogers. Maslow menekankan bahwa manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan itu diwujudkan Maslow sebagai hirarki kebutuhan manusia dari yang terendah hingga tertinggi. Sedangkan Carl Rogers menjelaskan ada 3 kondisi dari pribadi yang kreatif, yaitu keterbukaan terhadap pengalaman, kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi seseorang dan kemampuan untuk bereksperimen atau untuk ‘bermain’ dengan konsep-konsep.

3) Teori-teori tentang “Press”,
Kreativitas membutuhkan dorongan dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik). Motivasi intrinsik untuk berkreativitas bersifat universal dan ada dalam diri individu itu sendiri, namun membutuhkan kondisi yang tepat untuk diekspresikan. Menurut Rogers, penciptaan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis memungkinkan timbulnya kreativitas yang konstruktif.
Ciri-Ciri Kreatif
Ciri-ciri kemampuan kreatif/Aptitude (Utami Munandar, 1992) :
a. Keterampilan berpikir lancar, yaitu:
• Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah atau pertanyaan.
• Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal.
• Selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.
b. Keterampilan berpikir luwes, yaitu:
• Menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi.
• Dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
• Mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda.
• Mampu mengubah cara pendekatan
• Keterampilan berpikir rasional, yaitu:
• Mampu menghasilkan ungkapan yang unik.
• Memiliki cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri.
• Mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
c. Keterampilan memperinci atau mengelaborasi, yaitu:
• Mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk.
• Merinci detil-detil dari suatu objek, gagasan atau situasi sehhingga akan lebih menarik.
d. Keterampilan menilai, yaitu:
• Menentukan patokan penilaian sendiri dan menentukan apakah suatu pertanyaan benar, suatu rencana sehat atau suatu tindakan bijaksana.
• Mampu mengambil keputusan terhadap situasi yang terbuka.
• Tidak hanya mencetuskan gagasan tetapi juga melaksankannya.
Ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif (non-aptitude)
a. Rasa ingin tahu, yaitu:
• Selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak.
• Mengajukan banyak pertanyaan.
• Selalu memperhatikan orang, objek dan situasi.
• Ingin mengetahui dan peka dalam pengamatan.
b. Bersifat imajinatif, yaitu:
• Mampu membayangkan hal-hal yang belum pernah terjadi.
• Menggunakan khayalan dan mampu mengetahui perbedaan antara khayalan dengan kenyataan.
c. Merasa tertantang oleh kemajuan, yaitu:
• Terdorong untuk mengatasi masalah yang sulit.
• Merasa tertantang oleh situasi-situasi yang rumit.
• Lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit.
d. Berani mengambil resiko, yaitu:
• Berani memberikan jawaban meskipun belum tentu benar.
• Tidak takut gagal atau mendapat kritik.
e. Sifat menghargai, yaitu:
• Dapat menghargai pengarahan dan bimbingan dalam hidup.
• Menghargai kemampuan dan bakat-bakat sendiri yang sedang berkembang.
Gardner dengan “Teori Multi Kecerdasan” mengatakan bahwa , “ IQ tidak boleh dianggap sebagai gambaran mutlak, suatu entitas tunggal yang tetap yang bisa diukur dengan tes menggunakan pensil dan kertas. Ungkapan yang tepat adalah bukan seberapa cerdas Anda, tetapi bagaimana Anda menjadi cerdas”. (2002: 58)
Setiap orang memiliki beberapa tipe kecerdasan. Gardner mendifinisikan kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam satu latar belakang budaya atau lebih. Dengan kata lain kecerdasan dapat bervariasi menurut konteknya.
Kecerdasan Linguistik (Bahasa). Kemampuan membaca, menulis,dan berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa. Contoh orang yang memiliki kecerdasan linguistic adalah penulis, jurnalis, penyair, orator, dan pelawak.
Kecerdasan Logis-Matematis. Kemampuan berpikir (bernalar) dan menghitung, berpikir logis dan sistematis. Ini adalah jenis keterampilan yang sangat dikembangkan pada diri insinyur, ilmuwan, ekonom, akuntan, detektif, dan para anggota profesi hukum.
Kecerdasan Visual-Spasial. Kemampuan berpikir menggunakan gambar, memvisualisasikan hasil masa depan. Membayangkan berbagai hal pada mata pikiran Anda. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini antara lain para arsitek, seniman, pemahat, pelaut , fotografer, dan perencara strategis.
Kecerdasan Musikal. Kemampuan menggubah atau mencipta musik, dapat menyanyi dengan baik, dapat memahami atau memainkan musik, serta menjaga ritme. Ini adalah bakat yang dimiliki oleh para musisi, composer, perekayasa rekaman
Kecerdasan Kinestik-Tubuh. Kemampuan menggunakan tubuh Anda secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi. Kemampuan ini dimiliki oleh para atlet, seniman tari atau akting atau dalam bidang banguan atau konstruksi.
Kecerdasan Interpersonal (social). Kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian, memeperhatikan motivasi dan tujuan mereka. Kecerdasan jenis ini biasanya dimiliki oleh para guru yang baik, fasilitator, penyembuh, polisi, pemuka agama, dan waralaba.
Kecerdasan Intrapersonal. Kemampuan menganalis-diri dan merenungkan-diri, mampu merenung dalam kesunyian dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana dan menyusun tujuan yang hendak dicapai, mengenal benar diri sendiri. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh para filosof, penyuluh , pembimbing, dan banyak penampil puncak dalam setiap bidang.
Pada tahun 1996, Gardner memutuskan untuk menambahkan satu jenis kecerdasan kedelapan (yaitu kecerdasan naturalis), dan kendatipun banyak pendapat yang menentang, ada godaan untuk menambahkan yang kesembilan, yaitu kecerdasan spiritual.
Kecerdasan Naturalis. Kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan pemilahan-pemilahan runtut dalam dunia kealaman, dan menggunakan kemampuan ini secara produktif- misalnya berburu, bertani, atau melakukan penelitian biologi.
Kecerdasan hanyalah sehimpunan kemampuan dan keterampilan. Manusia dapat mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan dengan belajar menggunakan kemampuannya secara penuh.
Delapan kecerdasan yang dimiliki oleh manusia ini mengungkapkan kepada kita bahwa ada “banyak jendela menuju satu ruangan yang sama” di mana subjek-subjek pelajaran dapat didekati dari berbagai prespektif. Dan ketika orang mampu menggunakan bentuk-bentuk kecerdasan mereka yang paling kuat, mereka akan menemukan bahwa belajar itu mudah dan menyenangkan.

Kreativitas dalam perkembangannya sangat terkait dengan empat aspek, yaitu:
1. Aspek Pribadi
Ditinjau dari aspek pribadi, kreativitas muncul dari interaksi pribadi yang unik dengan lingkungannya.
2. Aspek Pendorong
Ditinjau dari aspek pendorong kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan internal maupun eksternal dari lingkungan.
3. Aspek Proses
Ditinjau sebagai proses, menurut Torrance (1988) kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai, dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyaipaikan hasil-hasilnya.
4. Aspek Produk
Definisi produk kreativitas menekankan bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreativitas adalah sesuatu yang baru, orisinil, dan bermakna.
Proses berpikir kreatif berkaitan erat dengan fungsi otak. Lahirnya kreativitas dalam bentuk gagasan maupun karya merupakan perpaduan fungsi kedua belah otak manusia. Clark (1983), dalam karyanya tentang konsep otak mengenalkan perbedaan fungsi otak menurut belahannya yaitu:

a) Left hemisphere
Disebut juga dengan otak kiri yang berkaitan dengan kemampuan berpikir ilmiah, kritus, logis dan linier.
b) Right hemisphere
Dikenal dengan belahan otak kanan yang berkaitan dengan fungsi-fungsi pemikiran yang non-linier, non-verbal, holistik, humanistik dan mistis.
.Secara umum, otak kiri memainkan peranan dalam pemrosesan logika, kata-kata, matematika dan urutan yang disebut pembelajaran akademis. Otak kanan berurusan dengan irama, rima, musik, gambar, dan imajinasi yang disebut dengan aktivitas kreatif.
Bagan Proses Pimikiran Otak
Otak Kiri Otak Kanan
 Vertikal
 Kritis
 Strategis
 Analistis  Lateral
 Hasil
 Kreatif

Keterangan:
Berpikir Vertikal. Suatu proses bergerak selangkah demi selangkah menuju tujuan Anda, seolah-olah Anda sedang menaiki tangga.
Berpikir Lateral. Melihat permasalahan Anda dari beberapa sudut baru, seolah-olah melompat dari satu tangga ke tangga lainnya.
Berpikir Kritis. Berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat, seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk.
Berpikir Analitis. Suatu proses memecahkan masalah atau gagasan Anda menjadi bagian-bagian. Menguji setiap bagian untuk melihat bagaimana bagian tersebut saling cocok satu sama lain, dan mengeksplorasi bagaimana bagian-bagian ini dapat dikombinasikan kembali dengan cara-cara baru.
Berpikir Strategis. Mengembangkan strategi khusus untuk perencanaan dan arah operasi-operasi skala besar dengan melihat proyek itu dari semua sudut yang mungkin.
Berpikir tentang Hasil. Meninjau tugas dari perspektif solusi yang dikehendaki.
Berpikir Kreatif. Berpikir kreatif adalah pemecahan masalah dengan menggunakan kombinasi dari semua proses.
Ciri-Ciri Kreativitas
Menurut David Cambell ciri-ciri kreativitas ada tiga kategori:
• Ciri-ciri pokok: kunci untuk melahirkan ide, gagasan, ilham, pemecahan, cara baru, penemuan.
• Ciri-ciri yang memungkinkan: yang membuat mampu mempertahankan ide-ide kreatif, sekali sudah ditemuka tetap hidup.
• Ciri-ciri sampingan: tidak langsung berhubungan dengan penciptaan atau menjaga agar ide-ide yang sudah ditemukan tetap hidup, tetapi kerap mempegaruhi perilaku orang-orang kreatif.

Bagan Ciri-ciri Kreativitas
Ciri-ciri Pokok
Ciri-ciriyang Memungkinkan Ciri-ciri Sampingan
1. Berpikir dari segala arah (convergent thingking)
2. Berpikir ke segala arah (divergent thingking)
3. Fleksibilitas konseptual (kemampuan secara spontan mengganti cara memandang, pendekatan, kerja yang tak jalan)
4. Orisinalitas (kemampuan menelorkan ide yang asli bahkan mengejutkan)
5. Lebih menyukai kompleksitas daripada simplisitas
6. Latar belakang hidup yang merangsang (hidup dalam lingkungan yang dapat menjadi contoh)
7. Kecakapan dalam banyak hal (multiple skills)
1. Kemampuan untuk bekerja keras.
2. Berpikir mandiri
3. Pantang menyerah
4. Mampu berkomunikasi dengan baik
5. Lebih tertarik pada konsep daripada detail (segi-segi kecil)
6. Keingin tahuan intelektual.
7. Kaya humor dan fantasi
8. Tidak segera menolak ide atau gagasan baru
9. Arah hidup yang mantap 1. Tidak mengambil pusing apa yang dipikirkan orang lain.
2. Kekacauan psikologis

Situasi Yang Kondusif Melahirkan Kreativitas
a. Kejujuran (honesty)
Inti dari sebuah kreativitas jika sebuah kejujuran dijunjung tinggi, karena kreativitas memerlukan dukungan ini. Alasan yang mendasar karena ada kecenderungan orang dengan mudah meniru dan menggandakan. Originalitas harus di proteksi.
b. Penghargaan pada mutu (appreciation)
Penghargaan pada mutu adalah ladang subur tumbuh kembangnya kreativitas, tanpa adanya penghargaan mutu orang cenderung menarik diri untuk berjalan pada kondisi normal, tanpa melakukan lompatan-lompatan ke depan.
c. Rasa ingin tahu (intellectual curiosity)
Seorang-orang yang kreatif mempunyai keinginan tahu yang tidak habis-habisnya, ibarat pantai pantang surut airnya. Keinginan tahu selalu jadi pintu gerbang bagi orang berbuat yang menggoncang dunia.
d. Ambisi yang sehat (healthy ambition)
Tidak hanya sekedar ingin tapi sudah bagian dari hidup seorang yang memiliki ambisi sehat, yang secara terus menerus menambah deretan keinginan. Ambisi sehat bagaikan air bah yang sulit untuk dibendung .

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s